Oriental: Jurnal Kajian Mutu Pendidikan

Oriental: Jurnal Kajian Mutu Pendidikan adalah jurnal ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian, telaah teoretis, maupun praktik baik yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan. Nama "Oriental" mencerminkan peran jurnal ini sebagai wahana orientasi akademik menuju sistem pendidikan yang lebih bermutu, inovatif, dan berkelanjutan.

Jurnal ini mengedepankan: (1) Kajian tentang mutu proses dan hasil pembelajaran, (2) Evaluasi dan pengembangan Readmore

Current Issue

Oriental: Jurnal Kajian Mutu Pendidikan adalah jurnal ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian, telaah teoretis, maupun praktik baik yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan. Nama "Oriental" mencerminkan peran jurnal ini sebagai wahana orientasi akademik menuju sistem pendidikan yang lebih bermutu, inovatif, dan berkelanjutan.

Jurnal ini mengedepankan: (1) Kajian tentang mutu proses dan hasil pembelajaran, (2) Evaluasi dan pengembangan kurikulum dan kebijakan pendidikan, (3) Inovasi dalam manajemen pendidikan, (4) Penerapan teknologi dan metodologi pengajaran yang efektif, (5) Analisis linguistik terapan dalam konteks pembelajaran bahasa.

Published
2025-09-29

Artikel

DINAMIKA PENGARUH SASTRA LISAN SAGATA LAMPUNG DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS BUDAYA

Sagata represents a cultural legacy within the Lampung community, manifested in the form of oral traditions. Typically taking the form of pantun or poetry, Sagata is sung during communication and interactions, both at an individual and group level. It frequently serves as a complementary element to the traditional ceremonies of the Lampung Coastal community. This study delves into Sagata as a cultural identifier expressed through oral traditions within the Lampung Coastal community. Employing a qualitative research method, data collection involves interviews, observation, and documentation, with qualitative data analysis being the chosen analytical approach. The research findings highlight that 1) Sagata, as an oral tradition, is an integral component of the cultural expression of the Lampung Coastal community, intricately linked to the influence of religious teachings, values, and societal norms prevalent, particularly within the Lampung Coastal context; 2) Sagata exists in various forms, including Sagata Sanak Ngebabang (children's rhymes), Sagata Buhaga (love rhymes), and Sagata Nangguh (rhymes used to commence or conclude activities). (Sutarno & Diana, 2022) d) sagata lalagaan (joking or funny rhymes), e) sagata nyindekh (satirical rhyme), and f) sagata hahiwang (condolence rhyme), and 3) sagata is still found as a complement to sacred ceremonies such as wedding ceremonies, muli mekhanai events, circumcisions as a medium for giving advice, messages and messages of life .   Sagata mewakili warisan budaya dalam komunitas Lampung, yang diwujudkan dalam bentuk tradisi lisan. Biasanya berbentuk pantun atau puisi, Sagata dinyanyikan selama komunikasi dan interaksi, baik pada tingkat individu maupun kelompok. Sagata sering berfungsi sebagai unsur pelengkap dalam upacara tradisional komunitas Lampung Pesisir. Studi ini mengkaji Sagata sebagai identitas budaya yang diekspresikan melalui tradisi lisan dalam komunitas Lampung Pesisir. Menggunakan metode penelitian kualitatif, pengumpulan data melibatkan wawancara, observasi, dan dokumentasi, dengan analisis data kualitatif sebagai pendekatan analitis yang dipilih. Temuan penelitian menyoroti bahwa 1) Sagata, sebagai tradisi lisan, merupakan komponen integral dari ekspresi budaya komunitas Lampung Pesisir, yang erat terkait dengan pengaruh ajaran agama, nilai-nilai, dan norma-norma sosial yang berlaku, terutama dalam konteks Lampung Pesisir; 2) Sagata hadir dalam berbagai bentuk, termasuk Sagata Sanak Ngebabang (syair anak-anak), Sagata Buhaga (syair cinta), dan Sagata Nangguh (syair yang digunakan untuk memulai atau mengakhiri aktivitas). (Sutarno & Diana, 2022) d) sagata lalagaan (syair lucu atau jenaka), e) sagata nyindekh (syair satir), dan f) sagata hahiwang (syair belasungkawa), dan 3) sagata masih ditemukan sebagai pelengkap upacara suci seperti upacara pernikahan, acara muli mekhanai, dan sunat sebagai media untuk memberikan nasihat, pesan, dan pesan kehidupan.

STRATEGI MEMPERTAHANKAN KEMAMPUAN BERBAHASA LAMPUNG

This article discusses strategies for maintaining Lampung language skills in schools. There are several main problems in maintaining Lampung language, namely: 1) the number of residents is less than that of immigrants, 2) people lack pride in using Lampung language, 3) use of Lampung language is limited only to specific context, the purpose of this article is how to maintain Lampung language as a cultural identity, the method used in this article is library research by collecting articles from various sources.   Artikel ini membahas tentang stratregi mempertahankan kemampuan berbahasa lampung disekolah,ada beberapa masalah utama dalam memepertahankan bahasa lampung yaitu : 1) jumlah peduduk yang lebih sedikit dibandingkan dengan pendatang, 2) kurangnya kebanggaan orang dalam mengunakan bahasa lampung, 3) penggunaan bahasa lampung terbatas hanya pada konteks tertentu , Tujuan dari artikel ini bagaimana upaya dalam mempertahankan bahasa lampung sebagai identitas budaya , metode yang digunakan dalam artikel ini yaitu studi pustaka dengan cara mengumpulkan artikel – artikel dari berbagai sumber.

ANALISIS REVITALISASI PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH LAMPUNG DALAM RANAH PENDIDIKAN

Regional languages ​​are not only elements that form cultural identity, but are also tools that play a role in shaping national personality. Regional languages ​​function as a means of interaction between individuals and are considered an invaluable cultural heritage that needs to be protected and preserved. The literature study method is the method used in writing this article. Maintaining regional languages ​​in the field of education can be done by paying attention to the characteristics of the people who use them. Education has a major role in preparing future generations, therefore preserving languages ​​can be done by preparing regional language speakers in the future. Education plays an important role in maintaining regional languages ​​to prevent drift and extinction. Languages ​​that experience continuous change are at risk of extinction, so it is important to preserve and protect regional languages ​​so that they do not become extinct. The main sign of language extinction is the absence of speakers of that language, and the initial symptoms can be seen through language shift.   Bahasa derah bukan hanya elemen pembentuk identitas budaya, tetapi juga merupakan alat yang berperan dalam membentuk keperibadian bangsa. Bahasa daerah memiliki fungsi sebagai sarana interaksi antar individu dan dianggap sebagai kekayaan warisan budaya yang tak ternilai yang perlu dijaga dan dilestarikan. Metode studi literatur merupakan metode yang digunakan dalam penuliasan artikel ini. Pemeliharaan bahasa daerah dibidang pendidikan dapat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik masyarakat yang menggunakannya. Pendidikan memiliki peran utama dalam menyiapkan generasi masa depan, oleh sebab itu menjaga bahasa dapat dilakukan dengan memprsiapkan penutur bahsa daerah di masa mendatang Pendidikan berperan penting dalam mempertahankan bahasa daerah untuk mencegah pergeseran dan kepunahan. Bahasa yang mengalami perubahan terus-menerus memiliki risiko punah, sehingga penting untuk melestarikan dan menjaga bahasa daerah agar tidak mengalami kepunahan. Tanda utama dari kepunahan bahasa adalah ketidakadaan penutur bahasa tersebut, dan gejala awalnya dapat terlihat melalui pergeseran bahasa.

DISKRIMINASI SOSIAL TOKOH ALA DALAM NOVEL “ALA DAN HANIYAH DI RUMAH TETERUGA” SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PERKEMBANGAN KARAKTER SISWA BERBASIS P5

This research analyses the discrimination that occurs in the character of Ala in the novel Haniyah and Ala in the Teteruga House by Erni Aladjai. This research uses a qualitative research method of literature study. The results of this study show that Ala's character gets discrimination. The discrimination that Ala solidified came from his friends and Mrs Hijima's teacher. Ala gets discrimination in the form of bullying. The novel Haniyah and Ala in Teteruga House by Erni Aladjai provides knowledge of the massive discriminatory behaviour and the impact of discrimination. In addition, there are Moral Values contained, namely mutual respect and appreciation. Ala's experience of discrimination in the novel Ala and Haniah at Teteruga's house can be a valuable lesson to develop several things in the Pancasila Student Profile, namely students can learn to appreciate differences and be tolerant of others, and students can learn to overcome difficulties and build self-confidence.   Penelitian ini menganalisis diskriminasi yang terjadi pada tokoh Ala pada novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga karya Erni Aladjai. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah tokoh Ala mendapatkan diskriminasi. Diskriminasi yang dipadatkan Ala berasal dari teman-temannya dan Ibu Guru Hijima. Ala mendapatkan diskriminasi berupa perundungan. Novel Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga karya Erni Aladjai memberikan pengetahuan akan masifnya perilaku diskriminasi dan dampak diskriminasi. Selain itu terdapat Nilai Moral yang terkandung yaitu saling menghormati dan menghargai. Pengalaman diskriminasi yang dialami Ala. Dalam novel Ala dan Haniah di rumah Teteruga dapat menjadi pelajaran berharga untuk mengembangkan beberapa hal yang ada dalam Profil Pelajar Pancasila yaitu siswa dapat belajar untuk lebih menghargai perbedaan dan bersikap toleran terhadap sesama, serta siswa dapat belajar untuk mengatasi kesulitan dan membangun kepercayaan diri.

ANALISIS TAKSONOMI KESALAHAN BERBAHASA PADA TEKS PIDATO BAHASA LAMPUNG DIALEK A DALAM LKS KELAS 10: TINJAUAN SIASAT PERMUKAAN DAN EFEK KOMUNIKATIF

Language has an integral role in various aspects of daily life and the successful use of appropriate language is very important. This study aims to analyze language errors in Lampung Dialect A speech texts on Grade 10 Student Worksheets (LKS), especially in the aspects of surface tactics and communicative effects. The research method used is descriptive qualitative, focusing on literature study. This research evaluates data from the Lampung Language & Literacy book for grade 10 SMA/MA-SMK, which is identified based on the analysis of language error taxonomy. The analysis results show various types of language errors, including simple addition, multiple addition errors, and wrong formation errors, which affect comprehension and communication effectiveness in speech texts. This research provides important insights for educators and curriculum developers to improve the quality of Lampung language learning, and highlights the importance of language error analysis in the learning process. Bahasa memiliki peran integral dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari dan keberhasilan penggunaan bahasa yang tepat menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan berbahasa dalam teks pidato bahasa Lampung Dialek A pada Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelas 10, khususnya dalam aspek siasat permukaan dan efek komunikatif. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan fokus pada studi kepustakaan. Penelitian ini mengevaluasi data dari buku Bahasa & Aksara Lampung untuk SMA/MA-SMK kelas 10, yang diidentifikasi berdasarkan analisis taksonomi kesalahan berbahasa. Hasil analisis menunjukkan berbagai jenis kesalahan berbahasa, termasuk penambahan sederhana, kesalahan penambahan ganda, dan kesalahan pembentukan yang salah, yang mempengaruhi pemahaman dan efektivitas komunikasi dalam teks pidato. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pendidik dan pengembang kurikulum untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Lampung, dan menyoroti pentingnya analisis kesalahan berbahasa dalam proses pembelajaran.

AFIKSASI BAHASA LAMPUNG DIALEK A DI DESA KANOMAN DAN IMPLIKASI PADA SMP

This research is about the affixation of Lampung dialect A in Kanoman village and its implications at the junior high school level. Formulation of the problem regarding how to analyze the affixation of Lampung dialect A in Kanoman village and the implications for SMP (Junior Middle School). The aim of this research problem is to find out and understand the affixation of Lampung dialect A in Kanoman village and the implications for SMP (Junior Middle School). The research method uses a qualitative descriptive method by describing the vocabulary conveyed by traditional leaders and the elderly in Kanoman village. Researchers also used the interview method to get results about Lampung language vocabulary in Kanoman village. The sources interviewed were traditional leaders and the elderly in Kanoman village. The affixations that are discussed by researchers in this article are prefixes in Lampung that have affixes at the beginning of words, including ng-, nge-, nga-, bu-, be-, ne-, me-, di-, ke-, ka-, se-, sa-, sanga-, ti-, te-, ta-, pe-, da-, and de-. The new words produced include ngakuk, ngegunik, ngalulih, buhayak, betawai, netuk, mekik, didapogh, kekalau, kabawak, selok, sahelau, sangapujuk, titawai, telesogh, takanjat, pepigha, daghani, and dedaghi. The suffixes in Lampung language have suffixes at the end of words, including -i, -ni, and -kon. So there are new words including sepo'i, toni, and benoghkon. Meanwhile, confixes in Lampung language have affixes at the beginning and end of words, including ke- -an, ge- -an, pe- -an, bu- -an, ti- -kon, and di- -kon. So there are new words, including kelanggaghan, gegalakan, pelegohan, buguwaian, tibeghakkon, and diiwakko. The implications at the junior high school (Junior High School) level are expected to be able to implement Lampung language affixation in the educational field being pursued. Penelitian ini tentang afiksasi bahasa Lampung dialek A di desa Kanoman dan Implikasinya pada jenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama). Rumusan masalah perihal bagaimana analisis afiksasi bahasa Lampung dialek A di desa Kanoman dan implikasi pada SMP (Sekolah Menengah Pertama). Tujuan masalah penelitian ini untuk mengetahui dan memahami perihal afiksasi bahasa Lampung dialek A di desa Kanoman dan implikasi pada SMP (Sekolah Menengah Pertama). Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan kosakata yang disampaikan oleh para tokoh adat dan lansia yang ada di desa Kanoman. Peneliti juga menggunakan metode wawancara untuk mendapatkan hasil tentang kosakata bahasa Lampung di desa Kanoman. Narasumber yang diwawancarai ialah para tokoh adat dan lansia yang ada di desa Kanoman. Afiksasi yang menjadi pembahasan peneliti pada artikel ini, prefiks pada bahas Lampung tersebut mendapatkan imbuhan yang berada di awal kata antara lain ng-, nge-, nga-, bu-, be-, ne-, me-, di-, ke-, ka-, se-, sa-, sanga-, ti-, te-, ta-, pe-, da-, dan de-. Kata baru yang dihasilkan antara lain ngakuk, ngegunik, ngalulih, buhayak, betawai, netuk, mekik, didapogh, kekalau, kabawak, segelok, sahelau, sangapujuk, titawai, telesogh, takanjat, pepigha, daghani, dan dedaghi. Sufiks pada bahas Lampung tersebut mendapatkan imbuhan yang berada di akhir kata antara lain -i, -ni, dan -kon. Maka terdapat kata baru diantaranya sepo’i, hinggani, dan benoghkon. Sedangkan konfiks pada bahas Lampung tersebut mendapatkan imbuhan yang berada di awal dan di akhir kata antara lain ke- -an, ge- -an, pe- -an, bu- -an, ti- -kon, dan di- -kon. Maka terdapat kata baru antara lain kelanggaghan, gegalakan, pelegohan, buguwaian, tibeghakkon, dan diiwakko. Implikasi pada jenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama) diharapkan dapat menerapkan Afiksasi bahasa Lampung di lingp pendidikan yang sedang di tempuh.

Indexer Sites